Ethiopia: Bentrokan Baru Guncang Tigray

Bentrokan bersenjata kembali pecah antara pasukan pemerintah federal Ethiopia dan pasukan Tigray di wilayah utara negara itu, menandai babak baru ketegangan di kawasan yang belum pulih dari dampak perang saudara sebelumnya. Eskalasi ini memicu kekhawatiran akan kembalinya konflik berskala besar di tengah kondisi kemanusiaan yang rapuh.

Sumber keamanan dan diplomatik menyebut situasi di lapangan “memburuk” dalam beberapa hari terakhir, sehingga memaksa pihak berwenang menangguhkan sejumlah penerbangan di wilayah terdampak. Penangguhan ini menambah isolasi bagi masyarakat lokal yang telah lama hidup dalam keterbatasan akses.

Pertempuran dilaporkan terjadi di Tsemlet, wilayah Tigray barat, yang selama ini menjadi daerah sengketa. Kawasan tersebut diklaim oleh pasukan dari wilayah tetangga, Amhara, sehingga kerap menjadi titik rawan benturan kepentingan bersenjata.
Seorang sumber keamanan yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa intensitas bentrokan meningkat cepat. Ia menyebutkan adanya pergerakan pasukan dan penggunaan senjata berat, meski rincian resmi masih sangat terbatas.

Wilayah Tigray sendiri masih hancur akibat perang besar yang berlangsung sejak 2020 hingga 2022. Konflik tersebut menewaskan ribuan orang, memaksa jutaan lainnya mengungsi, dan merusak infrastruktur dasar seperti rumah sakit, jalan, serta jaringan listrik.

Meski perjanjian damai dicapai pada 2022, ketegangan politik dan militer tidak pernah benar-benar mereda. Sejumlah wilayah tetap dipersengketakan, sementara proses rekonstruksi berjalan lambat akibat keterbatasan dana dan ketidakstabilan keamanan.

Situasi diperparah oleh pemotongan besar-besaran bantuan internasional dalam setahun terakhir. Banyak komunitas di Tigray sangat bergantung pada organisasi kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan pangan, kesehatan, dan air bersih.
Al Jazeera melaporkan dari desa Hitsats di Tigray, sebuah wilayah miskin yang sebelumnya menerima bantuan rutin dari berbagai lembaga internasional, termasuk Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat atau USAID. Bantuan tersebut selama bertahun-tahun menjadi penopang utama kehidupan warga.

Namun kondisi itu berubah drastis ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai menjabat dan merombak kebijakan bantuan luar negeri. Pendanaan USAID dipotong di berbagai belahan dunia, termasuk Ethiopia.

Di seluruh provinsi Tigray, organisasi kemanusiaan seperti Program Pangan Dunia atau WFP memperkirakan hingga 80 persen penduduk membutuhkan bantuan darurat. Pemotongan dana membuat kapasitas respons kemanusiaan menyusut tajam.
Dana yang tersisa sering kali dialihkan ke wilayah konflik global lain yang dianggap lebih mendesak. Akibatnya, daerah seperti Tigray semakin tersisih dari prioritas bantuan internasional.

Kekurangan pendanaan ini menciptakan kesenjangan besar dalam layanan dasar. Rumah sakit dan klinik kekurangan obat, tenaga medis, serta peralatan penting untuk menangani pasien.

Joshua Eckley, kepala misi Doctors Without Borders atau MSF untuk Ethiopia, menyebut pemotongan dana donor sebagai pukulan berat bagi sistem kesehatan masyarakat. Ia mengatakan sistem tersebut sudah rapuh bahkan sebelum bentrokan terbaru terjadi.

Menurut Eckley, pengurangan atau penangguhan aktivitas bantuan menyebabkan warga paling rentan kehilangan akses ke perawatan medis, air bersih, dan layanan sanitasi. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit dan kematian yang sebenarnya dapat dicegah.

Sementara itu, kebutuhan kemanusiaan terus melampaui kapasitas kolektif lembaga bantuan yang masih bertahan. Tekanan ini dirasakan paling berat oleh perempuan, anak-anak, dan lansia.

Pemerintah Amerika Serikat sempat mengumumkan dimulainya kembali sebagian dukungan untuk Ethiopia beberapa bulan setelah penangguhan. Namun banyak pihak menilai dampak nyata di lapangan sangat terbatas.

Bantuan yang kembali mengalir dinilai tidak sebanding dengan skala krisis, dan hanya sebagian kecil yang mencapai wilayah terpencil seperti Tigray. Ekonomi lokal dan struktur sosial di kawasan itu masih porak-poranda akibat konflik berkepanjangan.

Bentrokan terbaru ini menimbulkan kekhawatiran bahwa situasi keamanan akan semakin memburuk, sehingga menghambat upaya pemulihan dan memperparah penderitaan warga sipil.

Para pengamat menilai, tanpa solusi politik yang inklusif dan dukungan internasional yang memadai, Ethiopia berisiko terjebak kembali dalam siklus kekerasan. Tigray, yang seharusnya memasuki fase pemulihan pascaperang, kini kembali menjadi simbol rapuhnya perdamaian di negara tersebut.

Ethiopia: Bentrokan Baru Guncang Tigray Ethiopia: Bentrokan Baru Guncang Tigray Reviewed by peace on 10:09 AM Rating: 5

carousel