Negeri Dairi Si Onom Hudon, Dulunya Masuk Kerajaan Barus Hulu (Bhoven Barus). Pusat Peribadatan Suluk di Tanah Batak, khususnya wilayah Lae Toras.

Tuesday, December 05, 2006

SIBORONG-BORONG

SIBORONG-BORONG DALAM SEJARAH TAHUN 1800-AN

Siborong-borong pernah menjadi ibukota tanah Batak. Selain Bakkara yang dikenal sebagai ibukota Dinasti Sisingamangaraja. Hal itu terjadi karena adanya dua kelompok yang bertikai.

Ada dua kubu yang memerintah di tanah Batak saat itu. Satu kubu pimpinan Fakih Amiruddin yang wilayahnya meliputi Rao, tanah Batak selatan sampai Asahan, Padang Lawas dan sebagian daerah Toba berpusat di Siborong-borong dan kubu lain yakni saudaranya sendiri Sisingamangaraja X yang menjadi penguasa tradisional Toba dengan pusat di Bakkara.

Fakih Amiruddin memerintah dari Siborong-borong lebih kurang pada tahun 1800-an, dalam konflik dengan kerabatnya pihak Sisingamangaraja X di Toba. Pemerintahan Fakih Sinambela di Tanah Batak dibagi dalam empat wilayah. Masing-masing wilayah dipimpin oleh panglima.

Siapakah Fakih Amiruddin (Lontung)?

Dia putra dari Nai Hapatihan dari suami orang Aceh. Ada yang bilang bahwa suaminya tersebut adalah putra Ompu Palti Raja di istana Sisingamangaraja X. Ompu Palti Raja adalah gelar pendeta-raja pada masa itu yang khusus dipegang marga Lontung, selain Jonggi Manoar untuk marga Limbong Sagala dan Baligeraja dari toga Sumba. Nai Hapatihan adalah saudari perempuan Sisingamangaraja X. Diceritakan bahwa putri Sisingamangaraja X, yang bernama Pinta Omas boru Sinambela ternyata tertarik dengan Fakih. Bagi Fakih, Pinta Omas merupakan putri dari saudara ibunya alias Tulang. Putri inilah yang disebut dalam bahasa Batak sebagai pariban. Ternyata pernikahan mereka tidak disetujui. Dikabarkan Pinta Omas akhirnya memilih untuk terjun ke Danau Toba.

Dalam cerita anak-anak yang sering diperdengarkan di bonapasogit adalah bahwa Pintas Omas merupakan seorang putri yang tidak ingin menikah dengan lelaki paksaan orang tuanya tapi bertahan dengan pilihannya sendiri. Dia akhirnya memutuskan untuk bunuh diri demi mempertahankan prinsipnya. Namun, saat dia meloncat ke danau, yang diikuti oleh seekor anjingnya, dia ditakdirkan menjadi batu. Batu tersebut bentuknya seperti orang yang tergantung di dinding tebing. Patung atau batu, yang terdiri dari seorang putri yang terbalik dan seekor anjing yang tergantung ini menjadi objek wisata saat ini yang bernama 'legenda batu gantung'.

Saudara Pintas Omas dari satu ibu, Lambung Sinambela, akhirnya memilih untuk mengasingkan diri ke luar tanah Batak. Ada yang mengatakan dia di Tanjung Balai atau Asahan atau Sipirok atau di tempat lain. (Abdul Rachmi Pasaribu, "Raja Uti: Tokoh Spiritual Batak")

Mengapa Sisingamangaraja X tidak menyetujui pernikahan Pintas Omas dengan Paribannya sendiri??? Padahal ini merupakan hal yang wajar di adat Batak??

Bila kita melihat sejarah Sisingamangaraja I-VIII, dapat diketahui bahwa dinasti generasi ini tidak pernah mempunyai anak perempuan yang sangat dinanti-nanti. Legenda mengatakan bahwa hal ini merupakan kutukan karena Sisingamangaraja I atau Mahkuta alias Manghuntal pernah menghukum namborunya boru Sinambela dengan injakan kaki gajah. Sehingga Sisingamangaraja X sangat menyayangi putrinya dan merasa Fakih bukanlah jodohnya yang pantas. Ketakutan masih ada di benak Sisingamangaraja X karena keturunan Fakih yang punya ayah dari Lontung dan ibu yang sakti Nai Hapatihan akan lebih mulia dan lebih berwibawa dari keturunan Sinambela yang akan mengakibatkan kudeta politik.

Ceritanya adalah bahwa Manghuntal yang dikenal suka membantu orang, melunasi utang orang miskin dan membebaskan budak tersebut ditentang oleh namborunya yang juga bernama Nai Hapatihon. Akhirnya pertikaian terjadi antara kubu Sisingamangaraja I dengan kubu Namborunya. Kedua pasukan melakukan peperangan dalam waktu yang lama tanpa pemenang.

Mahkuta atau Manghuntal dikabarkan meminta pasukan gajah putih dari pemerintahan Dinasti Uti di Barus. Peperangan pun terjadi dan akhirnya Nai Hapatihan tewas dalam pertempuran tersebut.

Menurut cerita orang-orang tua, karena itulah keturunan Sisingamangaraja dikutuk tidak akan mempunyai anak perempuan. Kutukan tersebut baru berhasil dicabut oleh Sisingamangaraja IX. Puti Sisingamangaraja IX ternyata juga mempunyai kesaktian yang juga dinamakan dengan meniru nenek moyangnya, Nai Hapatihan. Putri Sisingamangaraja XII juga dikenal dengan keheroikannya yaitu, Lopian Boru Sinambela.

Fakih Amiruddin akhirnya memilih untuk merantau ke tanah Batak Selatan dan akhirnya suatu saat kembali dengan ribuan pasukan untuk melakukan kompetisi kekuasaan dengan Sisingamangaja X dalam perang paderi.

Sebab-sebab perang tersebut adalah banyak. Namun semuanya menyatu menjadi suatu alasan untuk bertikai:

1. Adanya pihak yang memanas-manasi politik saat itu. Dengan tujuan untuk mencipkatan kebencian dan permusuhan. Pihak ‘intel’ itu memasuki tanah Batak dengan baju misi dan lain sebagainya. Namun kejadian tersebut dapat dibaca oleh orang Batak kemudian hari. Sialnya, semuanya sudah terlambat. “Orang Batak Toba menganggap timbulnya perang Padri sebagai akibat rasa sakit hati Burton dan Ward karena ditolak mengembangkan Kristen. (Sihombing, 1961).”
2. Konstelasi politik lokal dalam perang Padri dengan tujuan membendung kekuatan Belanda. Sekarang ini diketahui pahlawan dalam perang ini, secara keseluruhan mulai dari Sumatera Barat adalah Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai Harahap.
3. Adanya dendam sejarah antara dua kubu Batak, Tatea Bulan yang diwakili marga Siregar dan Sumba yang diwakili Sinambela.
4. Perselisihan di dalam keluarga Sinambela di Bakkara. Keluarga yang memimpin tanah Batak dalam dinasti Sisingamangaraja. Antara Fakih Amiruddin dan Sisingamangaraja X.
5. Tarik-menarik pengaruh antara Minang di pihak Fakih Amiruddin dan Aceh di pihak yang lain. Seperti halnya yang terjadi antara persaingan Dinasti Pardosi (Pohan) dari Sumba yang didukung Aceh sebagai Sultan di Hulu Barus dan Dinasti Pasaribu dari Tatea Bulan yang dukungan Minang sebagai Sultan di Hilir Barus.
6. Bila persaingan di Barus berujung kepada penjajahan Belanda atas Barus setelah kedua kesultanan tersebut diadu domba maka pertempuran ini berujung dengan masuknya Belanda ke Toba.

Ibukota dan Pusat Pemerintahan Batak: Siborong-borong

Istana pemerintahan Fakih Amiruddin berpusat di Siborong-borong pada sebuah gedung yang megah. Setelah kepergian Fakih Amiruddin istana tersebut menjadi rumah kediaman pegawai Controleur/BB Belanda.

Wilayah kekuasaan Fakih Amiruddin di Uluan, Porsea diberikan dalam tanggung jawab Mansur Marpaung. Mansur Marpaung sendiri selain sebagai panglima pasukan Fakih Amiruddin, juga merupakan putra daerah Porsea. Paska perang, dia menduduki Asahan dan menjadi Tuanku Asahan. Kantor pemerintahan Mansur Marpaung sekarang menjadi sebuah mesjid di Porsea. Di Uluan juga, yang bukan wilayah Mansur, memerintah Alamsyah Dasopang kantornya berada dalam sebuah rumah yang kini menjadi pasar.

Wilayah Toba dipimpin oleh Idris Nasution dan kantornya berada di Laguboti yang kemudian di jaman Belanda menjadi sekolah pertukangan. Panglima lain, Jagorga Harahap menjadi penaggung jawab daerah Pahae Silindung, dan kantor pemerintahannya berada di Sigompulon yang pada jaman Belanda berubah menjadi HIS/Sigompulon. Di wilayah Silindung yang lain memerintah Raja Gadumbang yang berkantor di Pearaja sebuah tempat yang menjadi milik Jagorga Harahap dalam bisnis garam dan di zaman Belanda diambil menjadi kantor pusat HKBP.

Panglima yang lain yakni Pemasuk Lubis memimpin sebuah sekolah di bawah pemerintahan Fakih Sinambela di Sipoholon yang sekarang menjadi Sekolah Pendeta HKBP.

Sementara itu pemerintahan Sisingamangaraja X juga mempunyai panglima-panglima di berbagai benteng.

Benteng Silantom di Humbang dipimpin oleh Soaloon Harianja. Benteng Simangumban, Pahae dijaga oleh Raja Pandikar Siregar dengan anak buahnya Amanibinsar Sinambela seorang teman sepermainan di waktu kecil Fakih Sinambela. Benteng Pangaloan di Pahae dipimpin oleh Raja Gading Nainggolan. Benteng Tanggabatu di Humbang dipimpin oleh Sisingamangaraja X sendiri. Benteng Paranginan di Humbang dipimpin oleh Raja Amantaras Sianturi. Benteng Muara dipimpin oleh Ronggur Simorangkir. Benteng Bakkara dipimpin oleh Putra Mahkota Amandippu Sinambela. Benteng Tamba dipimpin oleh Parultop Sinambela.

Rakyat Batak Muslim yang dianggap sebagai golongan adat juga mendukung kekuasaan Sisingamangaraja X di berbagai tempat. Salah satu putra terbaik mereka telah menjadi panglima Sisingamangaraja X di Benteng Salak Dairi yaitu Panglima Syarif Tanjung, seorang yang menjadi teman dekat Raja. Benteng ini merupakan sistem pertahanan Sisingamangaraja X untuk mengamankan Salak Dairi sebagai ibukota kedua pemerintahan Sisingamangaraja X.

Benteng Tanjungbunga dipimpin oleh Raja Baganding Sagala. Benteng Dolok Sanggul dipimpin oleh Raja Humirtok Rambe, seorang Raja daerah Tukka dekat Barus yang sering bertindak sebagai duta besar ke Aceh. Benteng Laguboti dipimpin oleh Raja Sahala Simatupang.

Upaya diplomasi selalu dikedepankan oleh Fakih Sinambela untuk mengakhiri perang. Namun usaha tersebut ditolak oleh Sisingamangaraja X. Fakih Sinambela yang juga bersaudara dengan pihak Bakkara melakukan upaya persuasif dengan persembahan hadiah berupa barang-barang dari sutera, termasuk surat menyurat melalui kurir yang terdiri dari pedagang yang lalu lalang antar daerah kekuasaan masing-masing.

Sisingamagaraja X mempersiapkan rencana perang total. Beberapa keluarganya termasuk para putera mahkota diungsikan ke daerah Uti, daerah Singkel, Aceh yang memang banyak keluarganya khususnya dari marga Sinambela bermukim dan sudah mejadi muslim.

Sementara itu surat menyurat terus dilakukan untuk mencari jalan damai. Surat-surat tersebut ditandai dengan cap Sisingamangaraja X yang bertuliskan A Ha Ma Ra Ja Sa Ha Ha A Na atau Ahu Ma Raja Siahaan yang artinya akulah raja yang tertua artinya yang tertinggi.

Cap atau stempel tersebut dibuat di Aceh dalam pemerintahan Sultan Alauddin Johar Syah. Pemerintahan Sisingamangaraja X saat itu merupakan sekutu kesultanan Aceh. Cap tersebut terdiri dari sembilan lingkaran yang masing-masing berisi tulisan sehingga disebut Cap Kepala Sembilan.

Sisingamangaraja X, dalam surat balasannya yang berisi antara lain harapan, doa, kabar keluarga dan permintaan apabila dia kalah, Fakih Sinambela sudi menjadi Sultan Batak meneruskan Dinasti Sisingamangaraja. Permintaan terakhir ini setelah usai perang tidak dikabulkan Fakih Sinambela karena dia memang tidak berniat menjadi Sultan di tanah Batak.

Setelah Pulas dikumandangkan, Pulas adalah ultimatum perang tradisional di adat Batak, perang antar dua kubu akhirnya pecah. Pihak Sisingamangaraja X kalah dalam pertempuran tersebut.

Dua tahun memerintah di Tanah Batak, Fakih Amiruddin akhirnya harus meninggalkan pusat pemerintahannya di Siborong-borong dan meneruskan perjuangan dalam membela tanah air untuk mengusir penjajah Belanda di Air Bangis. Dalam usaha mempertahankan Air Bangis, Fakih Amiruddin bergelar Tuanku Rao bersama Panglimanya Amir Hussein Hutagalung bergelar Tuanku Saman gugur sebagai syahid.

Dikatakan bahwa keluarga Sisingamangaraja dan Fakih Amiruddin sampai sekarang masih terdapat di Sipirok diantaranya Lambung Sinambela dan Hombar Sinambela yang menjado nenek moyang marga Sinambela yang sudah Islam di Sipirok.

Sementara itu di Rao, istri Fakih Amiruddin, Zaharah Daudi, mempunyai tiga orang anak yang bernama Muhammad Abdullah Amiruddin, Muhammad Dahlan Amiruddin dan Muhammad Zain Amiruddin. Sepeninggalan Fakih Sinambela mereka pindah dan bermukim di Pariaman. Di sana mereka tinggal karena terdapat saudara Zaharah yakni Barkat Ali Daudi yang berprofesi sebagai pedagang yang sudah settled dengan baik. Informasi tersebut didapatkan Sutan Martua Raja, seorang sejarawan Batak, dari Mangaraja Soangkupon yang pernah menjadi anggota parlemen kolonial Belanda di Indonesia, Volksraad dan dari Bagindo Dahlan Abdullah, mantan anggota Gementeraad di Batavia. Diyakini keberadaan keturunan Fakih Amiruddin di Pariaman sekarang ini sudah tidak dapat dikenali karena mereka jarang mencantumkan marga di belakang nama, walaupun mereka berdarah biru kerajaan Batak, Sisingamangaraja.

Para panglima Fakih Amiruddin berhasil menjadi Raja di berbagai tempat. Di antaranya Mansur Marpaung, putra Porsea, menjadi Tuanku Asahan yang memerintah di Kesultanan Asahan. Zulkarnain Aritonang menjadi raja di kerajaan Merbau dan Alamsyah Dasopang menjadi raja di Kesultanan Kotapinang, semuanya masih memerintah sampai tahun 1940-an.

Pemasuk Lubis alias Tuanku Maga, panglimanya yang lain, meninggal dunia di Silindung pada tahun 1820. Dia disholatkan oleh marga Hutagalung di kampung Hutagalung, Silindung, dipimpin oleh Imam setempat, Kulipah Abdul Karim Hutagalung.