Negeri Dairi Si Onom Hudon, Dulunya Masuk Kerajaan Barus Hulu (Bhoven Barus). Pusat Peribadatan Suluk di Tanah Batak, khususnya wilayah Lae Toras.

Tuesday, December 05, 2006

Pintas Omas

FAKIH, PINTAS OMAS DAN LEGENDA BATU GANTUNG
By. J. Marbun

Cerita dan legenda dalam budaya Batak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan sejarah. Banyak orang yang beranggapan bahwa sebenarnya orang Batak sangat pintar dalam mengolah sebuah cerita dan legenda sehingga membuat orang lain ketakutan mendengarnya. Seperti halnya dahulu banyak orang Batak yang mengaku telah sering memakan orang dan bahkan membumbuinya dengan kalimat-kalimat yang hiperbolik.

Tapi lambat laun disadari bahwa pembumbuan kata-kata tersebut merupakan bagian dari sistem sosial di budaya Batak yang berfungsi sebagai bagian dari pertahanan diri dari serangan musuh. Musuh yang ingin berbuat jahat kepada orang Batak akan merasa kecut dengan stigma 'makan orang' yang justru dibuat-buat oleh orang Batak tersebut.

Namun banyak juga legenda yang terjadi simpang siur seperti halnya Muhammad Fakih Amiruddin. Sebagian sejarah mengatakan bahwa dia adalah putra hasil hubungan inses, 'sedarah' antara putra dan putri salah-satu Sisingamangaraja.

Sejarah ini begitu diterima dengan bulat-bulat oleh Sutan Martua Raja (SMR) atau Ir. Op. Parlindungan Siregar dalam bukunya "Tuanku Rao".

Di sini saya tidak berusaha membantah cerita di buku tersebut akan tetapi berusaha menguraikan dua fakta lainnnya.

Inilah cerita pertama:

Dari buku Adniel L. Tobing "Sisingamangaraja I-XII" hal. 16-33. Dikatakan bahwa Fakih Amiruddin lahir dari Nai Hapatihan Boru Sinambela saudara perempuan dari Sisingamangaraja X. Suami dari Nai Hapatihan adalah seorang yang menjabat sebagai Ompu Palti Raja, pendeta-raja dari marga Lontung..

Perlu untuk diketahui bahwa Ompu Palti Raja, Baligeraja dan Jonggi Manoar merupakan tiga pendeta-raja yang mempuyai kekuasaan sendiri-sendiri dalam adat Kerajaan. Ketiganya bersaing menurut prestise dan asal-usul masing-masing. Ketiga nama tersebut di atas merupakan nama jabatan yang diisi dari masing-masing jabatan itu berada. Ompu Palti Raja diisi oleh Lontung, Jonggi Manoar diisi oleh Sagala Limbong dan Baligeraja oleh toga Sumba.

Sebenarnya di luar posisi suci ketiga pejabat tersebut sebagai pendeta-raja, ketiganya juga bersaing dalam tarik-meratik otoritas adat antar mereka sendiri dan bahkan otoritas politik dengan Sisingamangaraja.

Bahkan keturunan Sagala Limbong yang menyebut dirinya Toga Simarata yang wilayahnya mencakup Luat Sagala Limbong dan pesisir tanah Batak dan juga keturunan Toga Lontung tidak pernah merasa bagian dari subjek kedaulatan politik Sisingamangaraja yang berpusat di Bakkara. Tidak ada yang mengetahui sebab-sebab separasi ikatan adat ini tapi ada yang mengatakan disebabkan oleh faktor sejarah. Pertama runtuhnya Dinasti Sagala dan Kedua, cerita-cerita masa lalu yang mengatakan bahwa banyak orang-orang Lottung yang merasa dirugikan oleh orang-orang Toga Sumba.

Sehingga diyakini bahwa posisi pemegang kuasa pendeta-raja Ompu Palti Raja saat itu demikian kuat sehingga mengkhawatirkan Sisingamangaraja X yang memegang tampuk kekuasaan politik.

Sisingamangaraja X khawatir bahwa kekuasaan Ompu Palti Raja akan semakin kuat apabila putranya menikah dengan putri Sisingamangaraja X.

"karena Baginda khawatir kalau kekuasaannya direbut oleh turunan saudaranya di kemudian hari…" begitu bunyi buku tersebut.

Lontung yang menjadi sumber marga Ompu Palti Raja memang dipenuhi dengan aura kompetisi dan persaingan sejak dahulu kala. Akan tetap Sisingamangaraja X mencarikan solusinya sendiri.

Buku tersebut menceritakan bahwa, pada suatu hari Baginda berkata kepada Nai Hapatian, " Saudariku, Tidak mungkin majapada (maksudnya; kerajaan) ini disinari oleh dua buah matahari."

Nai Hapatihan yang mengerti maksud tersebut menerima tawaran untuk mengasingkan diri dari luar tanah Batak. Dia sadar tidak dapat memberikan penolakan. Anjuran tersebut diterimanya setelah dia meminta sebuah kenang-kenangan yang dapat kelak menjadi bukti persaudaraan mereka. Yakni sebuah cincin.

Setelah menikah Nai Hapatihan boru Sinambela, berasal dari Toga Sumba, dan Putra dari Ompu Palti Raja yang tentunya berasal dari marga Lontung, mereka mengembara dan menetap di daerah Uti, sebuah daerah luar Batak yang sekarang bernama Singkil.

Di sana lahirlah Fakih Amiruddin yang kelak menjadi Tuanku Rao yang bersaing dengan Sisingamangaraja X dalam perebutan kedaulatan di tanah Batak.

Ini adalah cerita yang kedua:

Dalam versi lain dikatakan bahwa suami dari Nai Hapatihan adalah orang Aceh. Fakih lahir dari Nai Hapatihan dari suami orang Aceh. Putri Sisingamangaraja X, yang bernama Pinta Omas boru Sinambela ternyata tertarik dengan Fakih. Bagi Fakih, Pinta Omas merupakan putri dari saudara ibunya alias Tulang. Putri inilah yang disebut dalam bahasa Batak sebagai pariban. Ternyata pernikahan mereka tidak disetujui. Dikabarkan Pinta Omas akhirnya memilih untuk terjun ke Danau Toba.

Dalam cerita anak-anak yang sering didengarkan di bonapasogit adalah bahwa Pintas Omas merupakan seorang putri yang tidak ingin menikah dengan lelaki paksaan orang tuanya tapi bertahan dengan pilihannya sendiri. Dia akhirnya memutuskan untuk bunuh diri demi mempertahankan prinsipnya. Namun, saat dia meloncat ke danau, yang diikuti oleh seekor anjingnya, tapi dia ditakdirkan menjadi batu. Batu tersebut bentuknya seperti orang yang tergantung di dinding tebing. Patung atau batu, yang terdiri dari seorang putri yang terbalik dan seekor anjing yang tergantung ini menjadi objek wisata saat ini yang bernama 'legenda batu gantung'.

Saudara Pintas Omas dari satu ibu, Lambung Sinambela, akhirnya memilih untuk mengasingkan diri ke luar tanah Batak. Ada yang mengatakan dia di Tanjung Balai atau Asahan atau Sipirok atau di tempat lain. (Abdul Rachmi Pasaribu, "Raja Uti: Tokoh Spiritual Batak")

Mengapa Sisingamangaraja X tidak menyetujui pernikahan Pintas Omas dengan Paribannya sendiri??? Padahal ini merupakan hal yang wajar di adat Batak??

Bila kita melihat sejarah Sisingamangaraja I-VIII, dapat diketahui bahwa dinasti generasi ini tidak pernah mempunyai anak perempuan yang sangat dinanti-nanti. Legenda mengatakan bahwa hal ini merupakan kutukan karena Sisingamangaraja I atau Mahkuta alias Manghuntal pernah menghukum namborunya boru Sinambela dengan injakan kaki gajah. Sehingga Sisingamangaraja X sangat menyayangi putrinya dan merasa Fakih bukanlah jodohnya yang pantas. Ketakutan masih ada di benak Sisingamangaraja X karena keturunan Fakih yang punya ayah dari Lontung dan ibu yang sakti Nai Hapatihan akan lebih mulia dan lebih berwibawa dari keturunan Sinambela yang akan mengakibatkan kudeta politik.

Ceritanya adalah bahwa Manghuntal yang dikenal suka membantu orang, melunasi utang orang miskin dan membebaskan budak tersebut ditentang oleh namborunya yang juga bernama Nai Hapatihon. Akhirnya pertikaian terjadi antara kubu Sisingamangaraja I dengan kubu Namborunya. Kedua pasukan melakukan peperangan dalam waktu yang lama tanpa pemenang.

Mahkuta atau Manghuntal dikabarkan meminta pasukan gajah putih dari pemerintahan Dinasti Uti di Barus. Peperangan pun terjadi dan akhirnya Nai Hapatihan tewas dalam pertempuran tersebut.

Menurut cerita orang-orang tua, karena itulah keturunan Sisingamangaraja dikutuk tidak akan mempunyai anak perempuan. Kutukan tersebut baru berhasil dicabut oleh Sisingamangaraja IX. Puti Sisingamangaraja IX ternyata juga mempunyai kesaktian yang juga dinamakan dengan meniru nenek moyangnya, Nai Hapatihan. Putri Sisingamangaraja XII juga dikenal dengan keheroikannya yaitu, Lopian Boru Sinambela.

Fakih atau Pongki akhirnya memilih untuk merantau ke tanah Batak Selatan dan akhirnya suatu saat kembali dengan ribuan pasukan untuk melakukan kompetisi kekuasaan dengan Sisingamangaja X dalam perang paderi.
Pertentangan ini diyakini juga terwujud akibat ‘dipanas-panasi’ oleh dua orang intelijen asing di tanah Batak ala “Lawrence Arabia” yakni Burton dan Ward

Orang Batak Toba menganggap timbulnya perang Padri sebagai akibat rasa sakit hati Burton dan Ward karena ditolak mengembangkan Kristen. (Sihombing, 1961).